Mengenal 3D Printing, Jenis dan Cara Kerjanya

3D Printing merupakan proses pembuatan benda padat tiga dimensi dari file digital. Penciptaan objek cetak 3D dicapai dengan memakai proses aditif. Dalam proses aditif, suatu objek dibangun dengan meletakkan lapisan material yg berurutan sampai objek dibuat. Sebelum kita mengenal 3D Printing, Jenis dan cara kerjanya. Ada baiknya kita pahami definisi dan sejarahnya sebagai berikut.

Masing-masing lapisan ini bisa dilihat sebagai penampang benda yg diiris tipis. 3D Printing merupakan kebalikan dari manufaktur subtraktif yg memotong / melubangi sepotong besi alias plastik dengan umpama mesin milling. 3D Printing memungkinkan pengguna menghasilkan bentuk kompleks dengan memakai lebih sedikit bahan daripada metode produksi tradisional.

Desain printer 3D milik Herbert (Herbert, 1982).

3D Printing bukanlah faktor baru semacam yg kita sendiri bayangkan. Sebenarnya teknologi FDM (Fused Deposition Modeling) menjadi lumayan terkenal serta mengesankan bagi masyarakat umum kurang lebih tahun 2009 sebab liputan medianya. Pada titik tertentu, tak sedikit orang-orang benar-benar menduga bahwa FDM merupakan satu-satunya teknologi manufaktur aditif. Tetapi FDM bahkan bukan teknologi 3DPrinting pertama yg dikembangkan, serta 3D Printing sebetulnya dimulai pada 1980-an.Berikut merupakan garis waktu 3D Printing dari 1980-an sampai hari ini.

Sejarah 3D
Konsep 3D Printing sudah timbul pada tahun 1970-an, melainkan percobaan pertama dilakukan pada tahun 1981. Percobaan 3D Printing pertama dicoba oleh Dr. Kodama untuk pengembangan teknik pembuatan rapid-prototipe. Dia merupakan orang-orang pertama yg mendeskripsikan pendekatan layer by layer untuk manufaktur, penciptaan untuk SLA (atau Stereolitografi): resin fotosensitif dipolimerisasi oleh sinar UV.

Sayangnya, Dr. Kodama tak mengajukan persyaratan paten sebelum batas waktu yg ditentukan.Beberapa tahun kemudian, tim insinyur Prancis, Alain Le Méhauté, Olivier de Witte serta Jean-Claude André, berminat dengan stereolitografi melainkan ditinggalkan sebab kurangnya perspektif bisnis. Percetakan 3D ini juga memakai proses stereolitografi.Tiga tahun kemudian, pada 1984, Charles Hull membikin sejarah 3D Printing dengan menciptakan stereolitografi. Stereolitografi memungkinkan perancang membikin model 3D memakai data digital, yg kemudian bisa dipakai untuk membikin objek nyata.

Pada tahun 1992, Bill Clinton memainkan saksofon di The Arsenio Hall Show – serta 3D Systems (perusahaan Charles Hull) menciptakan mesin stereolithographic apparatus (SLA) pertama di dunia, yg memungkinkan untuk membikin bagian-bagian kompleks, lapis demi lapis, dalam sebagian kecil dari waktu yg biasanya dibutuhkan. Pada tahun yg sama, perusahaan rintisan DTM memproduksi mesin laser sintering (SLS) selektif pertama di dunia – yg menembakkan laser ke bubuk, bukan cairan.

https://cdn.pixabay.com/photo/2016/03/22/16/20/prostetic-1273183__340.jpg

Teknologi ini tetap dalam bagian awal serta belum sempurna, tetap ada berbagai lengkungan pada bahan ketika mengeras, serta mesin itu sangat mahal bagi pengguna di rumahan, melainkan potensinya tak bisa disangkal. Beberapa dekade kemudian, sejarah 3D Printing sudah memberikan bahwa potensi ini tetap terbuka lebar untuk dikembangkan.

Jenis-jenis 3D Printing

1. SLA Stereolithography (SLA)
Bahan Stereolithography (SLA) mengadopsi pembuatan aditif yg tergolong dalam keluarga Photopolymerization. Cara yg dipakai dalam pembuatannya nya ialah menambahkan layer semakin menerus pada bahan photopolymer menuju keatas. Material yg dipakai pada awalnya ialah liquid (cairan) dan akan mengeras saat liquid tersebut terkena sinar ultraviolet.SLA pertama kali dipakai pada 1986, dan tergolong kedalam teknologi 3D Printing yg ekonomis anggaran dan memperoleh yg akan terjadi terbaik.

2. DLP (Digital Light Processing)
DLP memili Teknik yg hampir sama dengan SLA dengan tutorial membikin bahan liquid mengeras dengan sinar ultraviolet. Akan tetap, pada proses penyinaran digital, objek pada awalnya berbentuk liquid yg penuh. Sebagian dari liquid tersebut akan disinari, yg pasti saja akan mengeraskan liquid tersebut, lalu objek yg mengeras akan karam kebawah dan menaikkan liquid selanjutnya. Proses ini semakin menerus dilakukan sampai objek 3D tersebut sukses dibuat.Dengan konsep photopolimer, DLP juga memperlukan alat bantu projector yg bisa menyinari objek 3D Printing dengan sinar cahaya tinggi. Pembuatan objek dengan DLP ini juga tidak sedikit dipakai sebab bisa tidak sedikit menghemat anggaran produksi.

3. SLS (Selective Laser Sintering)
Selective laser sintering (SLS) ialah teknik additive manufacture (AM) yg memakai laser sebagai sumber daya untuk bahan bubuk sinter (biasanya nylon alias poliamida), mengarahkan laser dengan cara otomatis ke titik-titik di ruang yg ditentukan oleh model 3D, mengikat material bersama-sama untuk menciptakan struktur yg kokoh. Ini mirip dengan peleburan laser selektif; keduanya ialah contoh dari konsep yg sama melainkan tidak sama dalam detail teknisnya.

4. EBM (Electron Beam Melting)
Proses dari 3D Printing untuk bahan metal. Prosesnya di suatu vakum dan mengawali prosesnya dengan membuatkan suatu layer dari metal powser (lebih tidak jarang memakai titanium). Electron beam akan mencairkan powder menjadi layer yg keras. Objek yg dibangun dengan teknik ini akan sangat kuat.Proses EBM memakai arsip elektron high power yg menghasilkan energi yg diperlukan untuk kapasitas leleh tinggi dan produktivitas tinggi. Proses panas memungkinkan Kalian untuk menghasilkan suku cadang tanpa tegangan sisa dan vakum memastikan lingkungan yg bersih dan terkendali.

5. MJM (Multi Jet Modelling)
Multi Jet Modelling ialah metode pembuatan prototipe cepat di mana model plastik dibangun berlapis-lapis pribadi dari data CAD 3-D memakai print head dengan berbagai Linear Nozzle. Termoplastik semacam lilin disemprotkan sebagai tetesan halus melewati print head yg dipanaskan pada resolusi 300 dpi dan lebih tinggi dan dipolimerisasi dengan memakai sinar UV. Multi Jet Modelling benar-benar bermanfaat sebab sangat cepat dan mendukung penyediaan warna.

6. FDM (Fused Deposition Modelling)
FDM menggunakan bahan nozzle yg dipanaskan dan akan melelehkan bahan semacam plastik pada yg akan terjadi outputnya. Nozzle tersebut akan berpindah dengan cara horizontal dan vertikal yg diatur oleh komputer. Ketika material keluar dari nozzle, material tersebut akan mengeras. FDM ialah tipe 3D yg tidak sedikit dipakai oleh para pabrikan pembuat mesin 3D Printing.

https://cdn.pixabay.com/photo/2018/11/07/11/18/3d-printing-3800204_960_720.jpg

You May Also Like

About the Author: duniacm

Leave a Reply

Your email address will not be published.