Pengantar Color Management dalam Dunia Grafika

“Koq, gambar pada monitor saya lebih merah dari monitor kamu padahal data digitalnya sama?”
“Koq, Photo yang saya scan warnaya tidak sama dengan aslinya?”
“Koq, warna hasil cetakannya beda ya dengan warna pada monitor saya?”
“Koq, tidak sama ya warna hasil digital proofing dengan warna pada monitor saya?” (masalah color management)

Debat tersebut merupakan “lagu classic” yang sering kita dengar dalam industri grafika baik dikalangan desainer grafis, photografer maupun operator cetak ataupun rekan-rekan lain yang terkait. Mengatur warna dari suatu perangkat yang satu dengan perangkat yang lain ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan. Pengaturan warna atau Color Management sebenarnya sudah didengungkan semenjak tahun 1993, namun seiring dengan perkembangan teknologi baik yang menyangkut hardware/software dalam bidang pracetak maka sistem Color Management juga terus berkembang menjadi lebih baik.

Color Management pada prinsipnya merupakan suatu cara/metode yang digunakan untuk mendapatkan warna yang consistency atau predictable (dapat diprediksi). Sebelum sistem desktop publishing (DTP) yang digunakan dewasa ini, perangkat pracetak merupakan perangkat yang bersifat “close system” dimana semua peralatan berasal dari satu vendor/merk dan mempunyai bahasa sendiri yang hanya bisa diterima oleh vendor tersebut. Namun sekarang teknologi grafika khususnya pada bidang pracetak telah berkembang ke arah “open system” dimana peralatan pracetak berbagai merk mulai dari scanner, digital camera, PC, Mac, digital proofing, image setter dan lain-lain dapat dipadukan dalam satu sistem untuk disesuaikan dengan kebutuha masing-masing. Agar dapat berkomunikasi peralatan yang satu dengan yang lainnya maka diperlukanlah Color Management.

Ada beberapa hal yang harus kita ingat dalam melakaukan proses color management, yaitu:
1. Software dan prosedur color management hanya membantu mendapatkan warna yang konsisten dan dapat di prediksi sebelum cetak, bukan koreksi warna.
2. Standarisasi dan konsistensi pada proses pracetak dan cetak merupakan kunci dari keberhasilan pelaksanaan color management.
3. Untuk mendapatkan kualitas gambar yang baik pada cetak tetap diperlukan scanner atau digital camera yang berkualitas baik.
4. Tetap dibutuhkan skill dan kemampuan seseorang untuk memproduksi gambar yang baik (analisa bagian highlight, shadow cast, dan lain-lain).

Seringkali muncul persepsi yang keliru apabila customer membeli perangkat dan software color management (untuk full version harganya dapat mencapai 50 jutaan keatas) maka semua persoalan warna akan selesai. Hal tersebut tentu saja tidak benar, Usaha mendapatkan warna yang dapat diprediksi dan konsisten merupakan suatu usaha yang terintegrasi dari berbagai bagian yang harus dijaga dan dilakukan secara continue.

Process Print on Demand

Berdasarkan pengalaman penulis yang sudah berkecimpung dalam bidang color management ini, yang menjadi kendala besar mengimplementasikan proses color management adalah:
1. Belum adanya kesepakatan “Standarisasi cetak” di Indonesia. Hal ini mengakibatkan konsistensi hasil cetak satu dengan yang lainnya sangat bervariasi. Dampak lainnya adalah kita menjadi kurang “pede” untuk mengatakan: “Kualitas cetakan saya sudah bagus”. Bagaimana kita dapat bersaing secara internasional? padahal secara jelas teknologi kita kalah dengan yang diluar negeri.
2. Kurang adanya kesadaran pentingnya penggunaan alat ukur (apakah karena tidak tahu pemakaiannya, tidak punya alat tersebut ataupun enggan untuk menggunakannya.
3. Kurang meratanya pengetahuan dan informasi mengenai kualitas cetak yang baik, hal ini menyangkut lemahnya Sumber Daya Manusia di Indonesia.
4. Teknologi konvensional proofing masih sangat mendominasi dan digunakan sebagai acuan cetak dan kita masih dalam tahap beralih pada teknologi digital proofing.

Bagaimana cara mengatasi kendala-kendala tersebut? DIperlukan kerjasama antara pihak suplier yang menjadi pembawa teknologi ke Indonesia, pihak industri sebagai pengguna teknologi dan pihak akademi/universitas/lembaga pendidikan

Ini adalah “PR” kita bersama. (Anne Dameria)

Baca juga: Kenalan dengan Mesin Digital Printing, Fuji Xerox Versant 180

You May Also Like

About the Author: duniacm

Leave a Reply

Your email address will not be published.